Tarombo Batak
BerandaMargaCari Silsilah
Marga/Purba Pakpak

Marga Purba Pakpak

Batak TobaBatak Simalungun
Tipang, Baktiraja, Humbang Hasundutan (Batak Toba)
Lihat Anggota MargaTambahkan Silsilah AndaBagikan
Sub-Etnis

Batak Toba, Batak Simalungun

Asal Daerah

Tipang, Baktiraja, Humbang Hasundutan (Batak Toba)

Sejarah & Informasi Marga Purba Pakpak

✦ Dibuat dengan SibatakJalanJalan AIKonten dihasilkan secara otomatis dari sumber Wikipedia. Mungkin perlu verifikasi lebih lanjut.

Marga Purba, sebuah nama yang bergemuruh dalam khazanah budaya Batak, merupakan salah satu pilar utama dalam struktur kekerabatan masyarakat Batak Toba dan Batak Simalungun. Dengan aksara Batak yang khas, ᯇᯮᯒ᯲ᯅ (untuk Batak Toba) dan ᯈᯮᯓ᯳ᯅ (untuk Batak Simalungun), marga ini tidak hanya menyimpan jejak sejarah yang panjang tetapi juga mewarisi nilai-nilai luhur dan filosofi hidup yang mendalam. Berakar dari Tipang, Baktiraja, Humbang Hasundutan bagi Batak Toba, dan memiliki kedudukan sentral di Tanah Simalungun, marga Purba adalah simpul penting yang menghubungkan berbagai garis keturunan dan tradisi dalam satu kesatuan Batak yang kaya.

Sebagai keturunan sulung dari Toga Simamora, leluhur marga Purba, yaitu Toga Purba, telah menorehkan babak baru dalam pengembangan silsilah dan penyebaran marga Batak. Keunikan marga Purba terletak pada dualisme identitasnya yang kuat, di mana mereka diakui sebagai marga utama baik di Batak Toba maupun di Batak Simalungun, menunjukkan adaptasi dan perjalanan historis yang menakjubkan. Artikel ini akan mengupas tuntas etimologi, sejarah, silsilah, tradisi, dan tokoh-tokoh terkemuka dari marga Purba, membawa pembaca menyelami kekayaan budaya yang melekat padanya.

Marga Purba bukan sekadar penanda identitas, melainkan cerminan dari sebuah peradaban yang berpegang teguh pada adat istiadat, kekerabatan, dan warisan leluhur. Dari filosofi nama hingga peranan dalam struktur kerajaan kuno, serta keragaman turunannya yang tersebar luas, kisah marga Purba adalah sebuah mosaik yang menawan tentang kegigihan, persatuan, dan kebanggaan akan akar budaya Batak.

Asal-usul dan Sejarah Marga Purba

Etimologi

Secara etimologis, nama "Purba" membawa makna yang mendalam dan berlapis. Kata ini berasal dari bahasa Sanskerta, yaitu purwa, yang secara harfiah berarti "timur". Penamaan ini mungkin mengandung filosofi tentang arah mata angin yang penting atau posisi strategis leluhur pada masa lampau. Menariknya, dalam bahasa Batak Simalungun, makna "Purba" berkembang lebih jauh, tidak hanya merujuk pada arah tetapi juga melambangkan "gelagat masa datang", "pengatur", "pemegang undang-undang", "tenungan pengetahuan", serta "cendekiawan/sarjana". Makna-makna ini mengindikasikan bahwa leluhur atau orang-orang yang menyandang marga Purba diharapkan memiliki kearifan, kemampuan memimpin, dan kebijaksanaan yang visioner.

Sejarah Awal dan Kekerabatan

Leluhur marga Purba adalah Toga Purba, putra sulung dari Toga Simamora. Silsilah ini menempatkan Purba sebagai bagian integral dari garis keturunan Simamora yang dihormati. Toga Purba memiliki adik-adik yang juga menurunkan marga-marga besar lainnya, yaitu Toga Manalu, Debataraja, dan Tuan Sumerham (yang menurunkan marga Rambe). Kekerabatan ini membentuk ikatan yang kuat dalam masyarakat Batak dan merupakan bagian dari persatuan marga Toga Simamora.

Salah satu aspek penting dalam kekerabatan Purba adalah hubungannya dengan keturunan marga Sihombing, yaitu Silaban, Sihombing Lumbantoruan, Nababan, dan Hutasoit. Mereka semua bersaudara karena dilahirkan oleh ibu yang sama, Siboru Panggabean Boru Lontung. Ikatan ini diistilahkan sebagai "Pitu Saina", yang berarti "Tujuh Satu Ibu", menunjukkan ikatan persaudaraan yang tak terputuskan antar-marga tersebut. Namun, perlu dicatat bahwa Tuan Sumerham (Rambe) tidak termasuk dalam kelompok Pitu Saina karena berasal dari ibu yang berbeda.

Pada masa kerajaan Batak kuno yang berpusat di Bangkara, terdapat empat kerajaan utama yang dikenal sebagai Raja Maropat. Salah satu di antaranya adalah Raja Maropat Humbang, yang kini kita kenal sebagai Humbang Hasundutan. Di daerah inilah keturunan Toga Simamora, termasuk Toga Purba, berkembang dan memainkan peranan penting dalam tatanan sosial dan politik. Toga Purba sendiri memiliki tiga orang putra: Pantomhobol, Parhorbo, dan Sigulang Batu.

Pada era dinasti Singamangaraja, marga Purba, sebagai bagian dari Simamora, menjadi anggota permusyawaratan enam marga di Bangkara yang dikenal sebagai "Si Onom Ompu". Kelompok ini memiliki peran sentral dalam menentukan suksesi dan mengadakan pemilihan Si Singamangaraja yang baru, menunjukkan pengaruh dan kedudukan terhormat marga Purba dalam struktur kekuasaan Batak kala itu.

Perjalanan dan Penyebaran ke Simalungun

Abad kedelapan belas menjadi saksi migrasi penting bagi sebagian keturunan marga Simamora dari Bangkara. Rombongan ini merantau melalui Pulau Samosir dan akhirnya menetap di Haranggaol. Mereka yang menetap ini adalah marga Purba keturunan Sigulang Batu, yang kemudian dikenal sebagai Purba di Tangga Batu dan Purbasaribu.

Selain itu, terdapat pula kelompok Purba Manorsa, keturunan Purba Parhorbo, yang berasal dari Simamora Nabolak (dekat Sipultak Siborongborong), Humbang Habinsaran. Mereka juga merantau ke Simalungun. Keturunan Simamora ini kemudian berasimilasi dan mengidentifikasi diri sebagai orang Batak Simalungun, berbeda dengan Purba Sigulang Batu yang tetap memelihara identitas Batak Toba mereka meskipun bermukim di Haranggaol. Perjalanan migrasi ini juga menunjukkan kerabatnya marga Purba dari Humbang dan Simalungun dengan marga Tarigan di Batak Karo, di Tanah Karo.

Di Simalungun, marga Purba tidak hanya berakar, tetapi juga mendirikan sebuah kerajaan. Purba adalah marga dari Raja Kerajaan Banua Purba, salah satu kerajaan yang pernah berjaya di daerah Simalungun, Sumatera Utara. Para Raja Purba ini memiliki banyak keturunan yang memperkaya keragaman marga Purba di Simalungun, seperti Tambak, Sidasuha (yang kemudian pecah menjadi Sidadolog dan Sidagambir), Sigumonrong, dan Tua. Kemudian muncul pula cabang-cabang lain seperti Purba Siboro, Tanjung, Pakpak, Girsang, Tondang, dan Sihala. Keturunan Purba Batak Simalungun ini, saat bertemu dengan keturunan Purba Batak Toba dari Humbang, mereka merasa seperti saudara kandung. Keturunan Purba Batak Simalungun ini awalnya bermukim di Simalungun, kemudian menyebar ke berbagai daerah.

Meskipun daftar nama-nama Raja Kerajaan Purba di Pematang Purba, Simalungun tidak dirinci, keberadaan kerajaan ini menegaskan peran historis dan kepemimpinan marga Purba di Simalungun.

Silsilah dan Keturunan Marga Purba

Silsilah atau tarombo marga Purba adalah jalinan kekerabatan yang kompleks, berawal dari Toga Purba, putra sulung Toga Simamora yang dilahirkan oleh Siboru Panggabean, putri semata wayang dari Siraja Lontung. Toga Purba menikah dan memperoleh tiga orang putra yang kemudian menjadi cikal bakal tiga kelompok besar marga Purba: Pantomhobol, Parhorbo, dan Sigulang Batu.

Keturunan Pantomhobol

Pantomhobol menikah dan memiliki tiga orang putra:

  • Tuan Didolok: Memiliki tiga orang putra:
    • Ompu Tinambaan, yang menikahi Boru Simatupang dan memiliki dua orang putra, yaitu Ompu Singit/Raja Bolon dan Ompu Mandosi, serta seorang putri yang menikah dengan marga Malau.
    • Ompu Tahi Raja, yang memiliki empat orang putra, yaitu Ompu Raja Ihutan, Ompu Raja Unggul, Ompu Raja Dolok yang menikahi Boru Nainggolan, dan Ompu Raja Habiaran.
    • Ompu Raja Idaon, yang memiliki seorang putra bernama Ama ni Raja Idaon/Pamuha, dan Ama ni Raja Idaon/Pamuha kemudian memiliki dua orang putra, yaitu Ompu Burnang dan Ompu Raja Di mana.
  • Pargodung: Menikah dengan Marairomas Boru Bakara dan memiliki tiga orang putra:
    • Toga Surduan, yang menikahi Mataniari Binsar Boru Sihombing dan memiliki seorang putra yang bernama Ompu Raja Dompak, dan Ompu Dompak kemudian memiliki tiga orang putra, yaitu Ama ni Raja Dompak, Ama ni Raja Dolok, dan Ama ni Raja Naginjang.
    • Toga Mangahut, yang menikahi Taruli Boru Tambunan dan memiliki seorang putra yang bernama Ompu Saitan, dan Ompu Saitan kemudian memiliki tiga orang putra, yaitu Ompu Mual, Ompu Sigar, dan Ompu Imbuan.
    • Toga Sahata, yang menikahi Tapinauasan Boru Saruksuk dan memiliki seorang putra yang bernama Ompu Urip, dan Ompu Urip kemudian memiliki dua orang putra, yaitu Ompu Tubung dan Ompu Rasi.
  • Baliga Raja: Memiliki seorang putra yang bernama Baliga Sende, dan Baliga Sende kemudian memiliki tiga orang putra:
    • Namora Tinahi, yang memiliki tiga orang putra, yaitu Guru Mangalingkang, Ompu Taluntun, dan Raja Natimbul.
    • Datu Pulungan Tua, yang memiliki seorang putra yang bernama Ompu Palti.
    • Ompu Tombak Saribu.

Keturunan Parhorbo

Parhorbo menikah dan memiliki tiga orang putra:

  • Parhodahoda: Memiliki dua orang putra, yaitu Badia Porhas dan Ompu Habinsaran. Terdapat pihak lain yang berpendapat bahwa Parhodahoda memiliki seorang putra lagi yaitu Tuan Sumerham yang merupakan leluhur marga Rambe, tetapi pendapat ini tidak diterima oleh pihak marga Rambe.
    • Badia Porhas, yang memiliki seorang putra yang bernama Ompu Barada dan keturunannya kemudian pergi ke Simalungun.
    • Ompu Habinsaran, yang menikahi Siboru Simoingoing Boru Pakpahan, putri dari Raja Hinerean Pakpahan Lumbanbosi dan memiliki lima orang putra, yaitu Ompu Raja Natarus, Ompu Raja Omaoma, Tungkot Marpaung, Dunia Raja, dan Guru Pinaungan.
  • Ompu Marsahan Omas: Memiliki tiga orang putra:
    • Tuan Siborna/Ompu Saruan Bosi, yang memiliki dua orang putra, yaitu Ompu Raja Sobo dan Ompu Rorotan.
    • Raja Sihoda, yang memiliki seorang putra yang bernama Ompu Omo dan keturunan dari Raja Sihoda dan putranya Ompu Omo ini yang kemudian membawa marga Purba Tanjung di Simalungun.
    • Namora Soleanon, yang memiliki seorang putra yang bernama Ompu Lanu.
  • Tuan Manorsa: Menikahi Boru Pasaribu dan Boru Tamba serta memiliki lima orang putra:
    • Sorta Malela, yang memiliki seorang putra yang bernama Ompu Raja Napultak, dan Ompu Raja Napultak kemudian memiliki dua orang putra yaitu Ama ni Raja Napultak dan Ompu Bisara.
    • Ompu Taraim/Ompu Sotareang, yang menikahi Boru Sitohang dan memiliki seorang putra yang bernama Ompu Mora Nauli, dan Ompu Mora Nauli kemudian memiliki seorang putra yang bernama Guru Manotang.
    • Ompu Soimbangon, yang menikahi Boru Hutabarat dan memiliki seorang putra yang bernama Ompu Sionang, dan Ompu Sionang kemudian memiliki tiga orang putra, yaitu Ompu Bagonda, Ompu Bisa Laut, dan Ompu Garaga Julu.
    • Raja Binuang/Sunggu Raja, yang memiliki seorang putra yang bernama Ompu Langgiung dan keturunannya pergi ke Simalungun.
    • Raja Hinongkop, yang memiliki seorang putra yang bernama Ompu Bara dan dari keturunan Raja Hinongkop ini kemudian lahir marga Purba Tondang dan Purba Tambun Saribu di Simalungun.

Keturunan Sigulang Batu

Sigulang Batu menikah dan memiliki seorang putra yang bernama Partali Ganjang/Parlangka Jolo, kemudian Partali Ganjang/Parlangka Jolo memiliki seorang putra yang bernama Guru Sotangguon, lalu Guru Sotangguon memiliki dua orang putra, yaitu Somalate/Guru Tentang Niaji dan Datu Rajim.

  • Somalate/Guru Tentang Niaji: Memiliki dua orang putra kembar yaitu Juara Parultop dan Datu Parulas. Dari keturunan Juara Parultop dan Datu Parulas kemudian lahir marga-marga pecahan seperti Purba Tambak, Purba Tuntung Batu, Siboro, Girsang, dan juga beberapa sub-marga Purba di Simalungun dan juga sub-marga Tarigan di Karo. Adapun tarombo dari keturunan Juara Parultop dan Datu Parulas hingga saat ini masih simpang siur dan belum ada kejelasan hingga saat ini, ditambah banyak pihak yang menyatakan bahwa Juara Parultop dan Datu Parulas merupakan dua nama dari satu orang yang sama yaitu Datu Parulas Parultop dan merupakan keturunan dari marga Nainggolan.
  • Datu Rajim: Yang tetap membawa marga Purba Sigulang Batu memiliki enam orang putra:
    • Ompu Parsaritaon, yang memiliki tiga orang putra, yaitu Ama ni Parsoritaon, Raja Sungkunon, dan Pangulu Raja.
    • Raja Niapul, yang memiliki tiga orang putra, yaitu Ompu Tinongkean, Ompu Dobo, dan Ompu Bosur Megaega.
    • Raja Saborang.
    • Ompu Habinsaran.
    • Ompu Satingting.
    • Ampangariman.

Turunan Marga Purba di Simalungun

Purba di Simalungun terdiri dari banyak turunan marga, antara lain:

  • Girsang
  • Pakpak
  • Siboro
  • Sidasuha
  • Sidadolog
  • Sidagambir
  • Sigumonrong
  • Sihala
  • Silangit
  • Tambak
  • Tambun Saribu
  • Tanjung
  • Tondang
  • Tua

Selain dari turunan marga di atas, beberapa etnis yang hidup di sekitar daerah Simalungun juga berbaur dengan penduduk bermarga Purba dan mengakibatkan timbulnya afiliasi marga-marga lain dengan marga Purba, antara lain: Manorsa, Simamora, Sigulang Batu, Parhorbo, dan Pantomhobol.

Purba Tanjung berasal dari Sipinggan, Simpang Haranggaol, Kecamatan Purba, Kabupaten Simalungun. Beberapa sumber menyatakan bahwa "Tanjung" pada marga ini berasal dari lokasi kampung Sipinggan yang merupakan sebuah tanjung di Danau Toba, arah Haranggaol. Keturunan Purba Tanjung berasal dari garis keturunan Ompu Marsahan Omas (dalam bahasa Indonesia berarti bercawan emas, karena kebiasaannya minum dari cawan emas), yang adalah keturunan Purba Parhorbo. Marsahan Omas memiliki keturunan bernama Bongguran yang memiliki kebiasaan "maranggir" (mandi air jeruk purut) di sekitar kampung Nagori, dengan menggunakan cawan emas. Marsahan Omas memiliki tiga orang putra: Tuan Siborna/Ompu Saruan Bosi, Raja Sihoda, dan Namora Soleanon. Raja Sihoda memiliki putra yang bernama Ompu Omo yang merupakan Purba Tanjung pertama yang bermukim di Sipinggan.

Purba Siboro berasal dari Haranggaol, Simalungun. Ada marga lain yang terkait dengan Siboro, yaitu Siboro Suha (kisahnya salah satu keturunan Siboro bersama abangnya Sidasuha (Purba Dasuha) pergi ke Sianjur Mulamula dan hidup bersama). Pada tahun 1996, salah satu putra dari Raja Siboro dinyatakan menghilang beserta ketiga saudaranya.

Purba Sigumonrong berasal dari daerah Cingkes yang merupakan salah satu nagori yang berada di Kecamatan Dolok Silau, Kabupaten Simalungun.

Marga Purba Tambak berasal dari daerah Dolok Silau, sebagian pihak juga ada yang meyakini bahwa Purba Tambak berasal dari Tanah Asahan yang kemudian berpindah ke Tanah Simalungun dan menetap di Dolok Silau. Leluhur marga ini adalah Datu Parulas Parultop, yang berasal dari Purba Sigulang Batu dari Humbang Hasundutan.

Purba Sidasuha berasal dari daerah Panei, Simalungun. Leluhur marga ini yaitu Purba Sigulang Batu dari Humbang Hasundutan. Purba Sidasuha terbagi lagi menjadi Purba Sidadolog dan Purba Sidagambir.

Purba Girsang (atau hanya Girsang saja) berasal dari Silimakuta, Simalungun. Ada beberapa opini tentang marga Girsang:

  • Sebagian meyakini bahwa Girsang ini merupakan sub-marga Sihombing Lumbantoruan, yang berarti Girsang itu marga Batak Toba.
  • Pendapat lainnya menegaskan bahwa Girsang adalah turunan langsung dari Purba Sigulang Batu.
  • Ada juga yang mengatakan bahwa Girsang adalah marga tersendiri yang kemudian berafiliasi dengan Purba.

Ketiga opini itu masih diperdebatkan sampai sekarang, namun secara umum, Girsang diakui memiliki hubungan kekerabatan yang erat dengan Purba.

Tradisi dan Adat Marga Purba

Dalam masyarakat Batak, marga bukan hanya sekadar nama belakang, melainkan sebuah identitas yang mengikat individu dalam jaringan kekerabatan, tradisi, dan adat istiadat yang kuat. Marga Purba, dengan sejarah dan penyebaran yang luas, memiliki peran sentral dalam menjaga kelangsungan adat Batak, terutama dalam konteks Batak Toba dan Batak Simalungun.

Sistem Kekerabatan dan Dalihan Na Tolu

Sebagai marga Batak, Purba secara otomatis terintegrasi dalam sistem kekerabatan Dalihan Na Tolu yang merupakan fondasi adat Batak. Sistem ini menegaskan tiga pilar utama yang saling menghormati dan mendukung:

  • Hulahula: Pihak keluarga istri, yang sangat dihormati dan dianggap sebagai "dewata" atau sumber berkat. Bagi marga Purba, hulahula adalah pihak marga dari mana mereka mengambil istri.
  • Boru: Pihak keluarga yang mengambil istri dari marga Purba, yang memiliki kewajiban untuk melayani dan menghormati hulahula mereka.
  • Dongan Tubu: Marga sendiri atau sesama keturunan Purba, yang merupakan saudara sekandung atau serumpun. Dalam hubungan ini, prinsip persatuan dan saling tolong-menolong sangat diutamakan.

Ketiga pilar ini saling melengkapi dan menciptakan harmoni dalam setiap upacara adat, pernikahan, hingga musyawarah keluarga, memastikan tatanan sosial yang teratur dan saling menghargai.

Tradisi Padan (Ikrar Persaudaraan)

Salah satu tradisi unik yang sangat dipegang teguh oleh marga Purba adalah padan, yaitu sebuah ikrar atau perjanjian sakral antar-marga yang melarang perkawinan antara kedua belah pihak yang berpadan. Ikrar ini dianggap lebih suci dan kuat daripada ikatan darah sekalipun, menegaskan persaudaraan abadi. Marga Purba memiliki beberapa padan penting:

  • Marbun Lumbanbatu: Seluruh keturunan marga Purba berpadan dengan Marbun Lumbanbatu. Ini berarti, tidak ada pernikahan yang diperbolehkan antara individu dari marga Purba dengan Marbun Lumbanbatu, karena mereka telah mengikrarkan diri sebagai saudara, serupa dengan hubungan dongan tubu.
  • Nainggolan Lumbanraja: Khusus untuk keturunan Purba Siboro, Purba Sigulang Batu, dan Girsang, mereka memiliki padan dengan Nainggolan Lumbanraja. Padan ini menegaskan hubungan kekerabatan yang mendalam dan saling menghormati antara kelompok-kelompok marga tersebut, seolah mereka adalah saudara kandung.

Padan ini menunjukkan betapa pentingnya menjaga ikatan persaudaraan dan menghindari inses, bahkan jika secara silsilah tidak ada hubungan darah langsung dalam beberapa generasi. Melanggar padan dianggap sebagai tabu besar dan dapat membawa konsekuensi sosial dan spiritual yang serius dalam masyarakat Batak.

Peran dalam Upacara Adat

Marga Purba, baik sebagai dongan tubu, hulahula, maupun boru, memainkan peran vital dalam berbagai upacara adat Batak, mulai dari ulaon (pesta) pernikahan, ulaon mangadati (upacara adat), hingga ulaon saur matua (upacara kematian bagi orang tua yang telah memiliki cucu). Kehadiran dan partisipasi mereka menegaskan legitimasi acara dan memperkuat ikatan kekerabatan. Misalnya, dalam pernikahan, peranan hulahula Purba sangat penting dalam memberikan restu dan nasihat, sementara boru Purba berperan dalam menyiapkan segala kebutuhan dan melayani. Melalui tradisi dan adat istiadat ini, marga Purba tidak hanya melestarikan warisan leluhur tetapi juga terus memperkuat rasa kebersamaan dan identitas budaya Batak yang tak lekang oleh waktu.

Penyebaran dan Populasi Marga Purba

Marga Purba tersebar luas di berbagai wilayah, mencerminkan perjalanan sejarah dan migrasi leluhur mereka. Daerah asal utama marga Purba adalah Tipang, Baktiraja, Humbang Hasundutan bagi Batak Toba, dan Tanah Simalungun bagi Batak Simalungun. Dari pusat-pusat ini, keturunan marga Purba telah menyebar ke seluruh pelosok Sumatera Utara, Indonesia, bahkan hingga ke mancanegara.

Sebagai salah satu marga utama di dua sub-etnis Batak yang besar (Batak Toba dan Batak Simalungun), populasi marga Purba tergolong signifikan. Mereka mendiami berbagai kabupaten di Sumatera Utara, seperti Simalungun, Humbang Hasundutan, Toba, Samosir, Karo, dan Dairi. Di daerah Simalungun khususnya, marga Purba menjadi salah satu marga dengan populasi terbanyak dan memiliki pengaruh budaya serta sosial yang kuat, mengingat sejarah kerajaan mereka di sana.

Selain di Sumatera Utara, banyak anggota marga Purba yang merantau dan membentuk komunitas di kota-kota besar Indonesia seperti Medan, Jakarta, Bandung, Surabaya, serta di berbagai negara lain. Meskipun telah menyebar, mereka tetap menjaga koneksi erat dengan kampung halaman dan silsilah leluhur mereka, serta membawa serta adat istiadat dan nilai-nilai Batak yang menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas mereka. Penyebaran ini menunjukkan adaptabilitas dan semangat merantau yang merupakan ciri khas masyarakat Batak.

Tokoh-Tokoh Terkenal Marga Purba

Marga Purba telah melahirkan banyak individu berprestasi yang berkontribusi dalam berbagai bidang, mulai dari seni, politik, olahraga, hingga militer. Kehadiran mereka di panggung nasional maupun internasional membanggakan nama marga dan mengharumkan budaya Batak.

Berikut adalah beberapa tokoh terkemuka yang menyandang marga Purba atau keturunannya, baik dengan penulisan Purba maupun Poerba (ejaan lama) atau dengan sub-marga seperti Girsang:

  • James Purba (Aktor / Presenter)
  • Johan Morgan Purba (Pemeran / Pebisnis)
  • Robby Purba (Aktor / Presenter)
  • Teddy Purba (Aktor)
  • Arapenta Lingka Poerba (Pesepakbola Persis)
  • Junimart Girsang (Advokat / Politikus)
  • Radjamin Purba (Pamen TNI AD, mantan Bupati Simalungun, dua kali menjabat)
  • Parlindungan Purba (Politikus & Aktivis)
  • Djaidin Purba (Wali kota Medan)
  • Yoseph M. Purba (Perwira TNI AU yang saat ini mengabdi di Kopasgat)
  • Franz Yohanes Purba (Pati TNI AD)

Tokoh-tokoh ini adalah bukti nyata bahwa marga Purba terus menghasilkan generasi yang berdedikasi dan berprestasi, meneruskan semangat leluhur untuk berkarya dan membangun bangsa, sekaligus menjaga kehormatan dan warisan budaya Batak.

Hubungan Kekerabatan Marga

Marga Induk / Leluhur

Simamora

Marga Seketurunan

Marga-marga yang berasal dari leluhur yang sama dengan Purba Pakpak

ManaluDebatarajaRambe

Turunan / Pecahan Marga

Sub-marga yang merupakan turunan dari Purba Pakpak

Purba Batak Toba:PantomhobolParhorboSiboroSigulang BatuPantomhobolParhorboSiboroSigulang BatuPurba Batak Simalungun:GirsangPakpakSiboroSidasuhaSidadologSidagambirSigumonrongSihalaSilangitTambakTambun SaribuTanjungTondangTuaGirsangPakpakSiboroSidasuhaSidadologSidagambirSigumonrongSihalaSilangitTambakTambun SaribuTanjungTondangTua

Marga Padan

Marga yang memiliki ikatan persaudaraan adat dengan Purba Pakpak

1. Marbun Lumbanbatu (Seluruh keturunan Purba)
Anggota Terdaftar
Lihat semua

Belum ada anggota terdaftar untuk marga ini.

Bagikan halaman ini

* TikTok & Instagram: link disalin ke clipboard — tempel di caption atau bio Anda.

Komentar

Pohon silsilah marga Purba Pakpak akan segera tersedia.

Jadilah yang pertama menambahkan silsilah!

Mulai Sekarang
Tarombo Batak

Platform silsilah dan komunitas Batak. Jaga warisan leluhur, sambungkan generasi.

Jelajahi

  • Daftar Marga
  • Cari Silsilah
  • Glosarium Batak
  • Hall of Fame
  • Daftar Akun

Marga Populer

  • Sitompul
  • Sinaga
  • Nasution
  • Ginting
  • Saragih

Informasi

  • Kebijakan Privasi
  • Syarat & Ketentuan

© 2026 Tarombo Batak. Hak cipta dilindungi.

Dibuat dengan ❤ untuk komunitas Batak di seluruh dunia.

v1.9.04